Prolog
Ratusan tahun cahaya jarak di antara kita, Bumi dengan Shelter. Di tengah-tengah kekacauan itu, aku berdiri di sini, lari dari kebodohan umat manusia. Menyelamatkan diri atau melarikan diri, aku tak tahu apa perbedaannya. Adalah fakta yang tak bisa terbantahkan bahwa aku pergi meninggalkannya, beserta apa yang ada padanya. Ironi.
Tujuh puluh tahun aku berpijak di sini. Memandangi dua bintang kecil dan tiga bulan tiap harinya. Bertanya-tanya dalam gelap, seperti apa ia sekarang? Masih 'kah buruk rupa atau cantik jelita? Mengingat umurnya yang tak lagi muda, mungkin sudah ada beberapa darinya yang tenggelam dalam samudera. Bahkan mungkin sudah tenggelam seutuhnya dalam tangisan duo sejoli Greenland dan Antartica.
Seseorang pernah bertanya padaku, apa yang akan terjadi pada dunia jika dia keluar dari sangkarnya? Bayi lima tahun mana bisa membalasnya. Hanya pandangan linglung yang menyertainya. Dengan jas putihnya. Dengan kacamata lingkarnya. Dengan sebatang rokoknya. Dan ratapan penyesalan darinya yang nampak di wajahnya sebelum semua itu terjadi.
Perang dunia ketiga. Eropa melawan Amerika. Asia yang menjadi penyokong senjata. Afrika masihlah duduk santai di padang savananya. Aussy memantau dari kejauhan, sewaktu-waktu bisa menjadi bala bantuan persemakmuran Inggris. Sedangkan Antartika menangis menyaksikan saudara-saudaranya saling adu besi. Ilmuwan terdahulu pernah berkata kalau perang yang terjadi selanjutnya adalah pertaruhan kekuatan daya ledak dan radiasi nuklir. Tapi sejak orang itu melepaskannya dari sangkar, meta peperangan berjungkirbalik. Desing kuningan masih tetap menjadi latar musiknya, letupan srikaya masih menjadi cymbalnya. Namun, untuk pemainnya... Bukan lagi berjiwa.
Telah dilepaskan dirinya dari tabung besi yang berada di ruang kerja perokok itu. Menyengat dunia atas keindahan dan kepiawaiannya dalam mengurus pekerjaan rumah tangga. Membantu segala urusan manusia kala itu. Automata generasi pertama, Servant. Hingga akhirnya tibalah masa dimana penguasa menginginkan sesuatu yang lebih darinya. Mereka mengharapkan sesuatu yang lebih luar biasa dari nya. Memaksaku untuk menghirup bau rokok yang lebih menyengat dari biasanya. Orang itu berusaha keras untuk mewujudkannya, meski aku tahu alasan dibaliknya. Hanya butuh waktu tiga tahun setelah lima tahun generasi pertamanya membumikan diri. Berkepala. Berbadan. Bertangan. Berkaki. Bergerak. Berbicara. Berpikir. Bersama-sama saling bunuh antar sesamanya.
Tentra, adalah Automata generasi kedua yang dirancang untuk terjun dalam peperangan. Pada mulanya, Asia sebagai penyulut api yang akan melempar dadu terlebih dulu. Namun dugaan tersebut meleset sebab kapitalis Asia berhasil menahan ambisi para panglima dan membujuk mereka untuk duduk santai dengan menikmati acara televisi pagi, siang, sore, dan malam yang menayangkan berita terkini tentang pesta kekacauan. Ya, mereka sangat menikmatinya. Berton-ton emas batangan dikirim oleh Amerika untuk membeli Automata plus suku cadangnya pada kami. Berton-ton bahan pangan mengalir di meja makan kami demi besi yang nantinya juga akan menjadi rongsokan.
Mereka terhanyut dalam emosi buta di jalan setapak yang dibuat oleh Asia. Dua tahun saling beradu, barulah mereka menyadari kalau sesungguhnya mereka tidaklah lebih dari sekadar Marionette dengan Si Manipulatornya. Sedang Asia sebagai penonton menikmati popcorn mereka di bangku penonton.
Aku yang tengah remaja pertengahan mulai muak saat kemana pun melangkah hanya melihat dan mendengar perang, perang, dan perang. Tiada kata lain yang terucap dari mereka. Bahkan teman sekelasku pun tak ada beda. Membual tentang keseruan seolah bermain gim di benak masing-masing sudah menjadi hobi kaum milenial. Memiliki Tentra adalah impiannya. Tapi hanya sebatas itu, tidak lebih. Harga selangit tak kan mereka jangkau. Bunga tidur belaka.
Hari itu adalah hari biasa. Hari ulang tahunku. Menikmati jus jeruk lebih menggairahkan dibanding sepotong kue buatan toko. Orang itu selalu sibuk dengan urusannya, sosok yang orang juluki sebagai Ibu pun aku tak punya. Tapi, jika aku boleh berharap satu hal di napasku yang sudah berembus selama delapan belas tahun lamanya ini, aku hanya menginginkan satu hal. Dan itu...
Serangan balik ke Asia diluncurkan.
Musnahkan Asia dikumandangkan.
Tangkap berkulit Asia digencarkan.
Musnahkan Asia dikumandangkan.
Tangkap berkulit Asia digencarkan.
Perang dunia keempat pun dideklarasikan. Di hari ulang tahunku. Terpanggil dirinya tuk menengok buah terlantarnya ini. Melemparkan segumpal kertas sebagai penghinaan atas hari dimana aku keluar dari rahim seorang isteri muda. Entah apa maksud dari apa yang dikatakannya padaku sebelum pintu kaca tertutup, Dia persis seperti ibumu ketika masih muda". Laboratory A-1 - Blok 99 Subject *** Registration code "***** ********" , itulah yang tertulis di sana. Kuacuhkan saja dan melanjutkan bermain video gim di kamar. Beberapa jam kemudian sosok itu kembali hadir di mataku. Dengan jas merahnya. Dengan perut merahnya. Dengan ingus dan liur merahnya. Dengan tangan merahnya dia memegang kepalaku yang tertunduk sekarat. Pergilah dari sini, ibumu sudah menunggumu, sebagaimana ayah yang akan menjemput ibumu.
Sampai sekarang aku masih mengingatnya. Mulanya Ia pergi dengan senyuman, datang dengan rintihan, dan pergi dengan penuh senyum penyesalan. Jika aku yang terkapar menjemput ajal saat itu, mungkin ini yang akan katakan. Maafkan aku yang tidak berguna ini, sebagai gantinya, aku berikan itu untukmu. Meski kutahu itu hanyalah pengandaianku semata, tapi mengapa terasa begitu menyakitkan. Jarum panjang itu mampu menusukku dari bumi sampai ke sini, sampai hari ini. Namun tak perlu kau khawatirkan aku lagi, itu semua berkat pemberianmu di hari itu. Automata generasi ketiga, bukan pelayan juga pelindung, melainkan gabungan dari dua generasi sebelumnya. Sebuah momen yang tidak pernah aku dapatkan. Sebuah rasa yang tidak pernah kusentuh. Sebuah harta yang paling aku impikan.
Subject M01. Registration Code... "Happy Birthday" Automata Generation 3. The Protector, Mama.
Automata yang memancarkan kasih sayang rembulan di tiap helai mahkotanya. Memandang penuh ketenangan langit. Tersenyum manis tulus dari hati terdalam. Menerangi jiwa yang kosong ini. Lucy. Itulah nama yang tersemat di dalam programnya. Dan itu juga, nama yang selalu kucari keberadaannya. Ibu.
Kini dia berdiri di sampingku, memandang bulan yang sama di tengah angin malam yang menusuk. Bersandingan mencari sumber kehangatan rekaan manusia. Agar kami bisa bertahan untuk sesaat sebelum dia menatap jelas wajahku dan berucap "Master, mari segera masuk. Angin malam tidaklah baik bagi kesehatanmu."
Aku seperti dikasihani olehnya. Di usiaku yang sudah berkepala tujuh ini, bukan hanya angin malam saja, bahkan hilangnya kepingan-kepingan ingatan juga berdampak besar bagi kesadaranku. Lusa adalah peringatan semakin dekat aku dengan kematian yang ke tujuh puluh satu, aku berencana membuat sebuah kejutan seperti yang ayah berikan padaku dulu. Besok, setelah ratusan tahun tak berjumpa, kami akan mencoba untuk menengok kondisinya. Itulah dalihku untuk menyembunyikan kejutanku yang terakhir kalinya dalam hidupku untuk mereka yang tak akan pernah mati.
"Master..."
Sekalipun jiwa meninggalkan raganya, setidaknya izinkanlah ingatan ini untuk tinggal bersama mereka selamanya.
Kami tidak akan pernah bertemu kembali, kuserahkan mereka berlima pada diriku yang lusa. Terimakasih dan....
Selamat Tinggal.

0 comments:
Post a Comment