(https://explorerguidebook.blogspot.com/2013/05/klasik-cafe-de-flore-paris.html)
Nada dari Symphoni no.9 in D minor yang terdengar mengalun dengan indah dihati pecinta kopi yang ada di kafe malam ini. Rangkaian tangga nada mayor dan minor saling berseteru berebut tampil di rangkul oleh dawai yang menggetarkan senar dengan begitu lembutnya. Suara yang berwujud gelombang berselancar memutari daun telinga hingga tiba di gendang manja. Meja-meja bersilang memenuhi ruang depan. Tiga meja bundar terletak di sepanjang kaca jendela kafe, sedang empat meja lainnya berada di samping kayu pembatas jalan menuju dapur dan ke lantai dua. Pelayan berbaju maid hitam-putih mengenakan rompi hitam berjalan menghampiri seorang pelanggan di meja kedua dari pintu depan di samping kaca yang menanti secangkir kopi di atas nampan pelayan baru itu..
"Désolé de vous faire attendre longtemps" (Maaf membuat anda menunggu) ia persembahkan kopi buatan master kepadanya.
"Merci" (Terimakasih)
"Profiter" (Silahkan dinikmati) pelayan itu sedikit menundukkan kepalanya dan memasang senyum kecil lantas kembali ke dapur.
Bolak-balik dari dapur menuju meja pemesan bukanlah hal yang buruk, karena itu adalah tugas seorang pelayan. Tamu adalah Raja, dan bisa melayani Raja adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi seorang pelayan. Itulah kalimat yang sering diucapkan oleh manajer kafe ini.
"Aku baru saja mulai bekerja disini, setidaknya berilah sedikit keringanan padaku, le gérant !" keluhnya menaruh nampan di meja.
Le gérant adalah sebutan untuk manajer dalam bahasa perancis. Seorang wanita yang mengenakan baju merah dilapis celemek putih nan anggun dengan kacamata yang menambah kesempurnaan wajah cantiknya sedang sibuk dengan teko dan cangkir ditangannya,
"Justru karena ini adalah hari pertamamu, maka dari itu kau harus bekerja lebih giat Gratt !" tegas perempuan berkuncir kuda itu.
Meski sudah berkata seperti itu, Nancy yang seorang manajer sekaligus pendiri kafe ini memang tidak sepenuhnya berniat berkata seperti itu. Justru sebaliknya ia berharap kafe ini segera tutup lebih cepat agar bisa menghabiskan malam minggu dengan berbelanja di mall. Berusaha tampil menarik dengan pakaian dan aksesoris yang menarik adalah suatu kewajiban sebagai seorang wanita matang berusia 25 tahun tapi masih belum ada pejantan yang meliriknya. Sungguh menyedihkan....
Setiap pukul 7 malam kafe Se calmer ini selalu ramai dikunjungi oleh sebagian orang yang berkepentingan dengan kami maupun tidak. Maksudnya adalah ada beberapa orang yang sengaja datang kesini bukan untuk menikmati kopi buatan Le gérant, melainkan ada kepentingan bisnis dengan kami. Nancy yang biasanya akan mengurus persoalan tersebut di ruang manajer yang terletak di lantai dua.
Tugasku hanya ada satu di kafe ini semenjak Pose bergabung denganku dan Nancy. Aku menyambut kedatangan pelanggan dengan biola yang sedang kumainkan ini, Symphoni nomor 9 in D minor merupakan lagu andalanku. Aku terus membawakannya selama jarum jam panjang di angka 2 hingga diangka 4.
"Le gérant, dimana Pose ?" tanya pria berponi sebelah dengan rambut pirangnya.
"Ahh..., Pose sedang ada pemotretan malam ini, kalaupun kesini mungkin agak malam datangnya" jawab Nancy menaruh secangkir kopi dan sepiring ratatouille.
Meski raut wajah Gratt yang sudah terlihat payah, ia tetap berusaha berjalan lagi ke meja pelanggan dan tersenyum lagi dan lagi. Kalau dilihat dari sisi lain, semoga saja rambut pirangnya itu cukup untuk membantu wajahnya agar terlihat selalu segar di mata pelanggan. Semangat !!
Kring.... (suara pintu belakang)
Lelaki berkaos putih itu masuk ke dalam kafe melalui pintu belakang, dia adalah Pose. Bekerja di salah satu agensi sebagai model majalah fashion, wajahnya kerap muncul di sampul majalah stylish tiap hari kamis. Rambutnya yang semenawan perak, matanya sebiru langit, hidungnya semancung paruh beo, dan tubuhnya setinggi 180 cm benar-benar membuat para gadis terpanah melihatnya. Meski menyebalkan harus melihat wajah tampannya itu, mau bagaimanapun aku harus sebisa mungkin untuk membiasakan diri.
Aku benci pria tampan !!
"Bonne nuit" (Selamat malam) salam dari Pose dengan badan sempoyongan.
"Ah... Pose kau sudah datang ya !" sambut Nancy.
Tak sebanding dengan Gratt, bagaimanapun juga dengan jelas ia nampak seperti orang sekarat yang bisa roboh kapan saja. Wajahnya nampak kusut dan pucat sekali, bibirnya pun seperti kakek-kakek. Nancy menyuruhnya untuk membasuh wajah terlebih dahulu dan memakan fast food yang ia beli di perjalanan kesini. Ya... karena tuntutan kerja tak berkesudahan membuat ia belum makan sejak tadi siang. Setelah dirasa wajahnya cukup segar dan telah menyandarkan punggungnya di sofa empuk di ruang manajer selama kurang lebih sepuluh menit, ia bersegera berganti pakaian maid di ruang ganti di lantai dua.
Selesai aku membawakan lagu kesukaanku, aku berdiri di pintu masuk untuk mengucapkan bienvenue (Selamat datang) dan revenir (Datang kembali). Dikala kami melakukan pekerjaan yang sangat terpaksa namun memang terpaksa karena untuk sesuap nasi memerlukan uang bukan batu, tak terasa waktu telah berjalan selama dua jam. Pelanggan sudah banyak yang pulang seusai bersantai di kafe ini. Di jam inilah pelanggan khusus yang memiliki kepentingan dengan kami akan datang. Entah itu seorang atau dua orang, pasti akan ada yang datang.
Malam sudah larut, waktunya manusia liar kembali ke habitatnya. Jalanan yang mulai sunyi terasa jelas bagiku yang sudah dua jam berdiri disini. Kafe ini menghadap ke arah utara terletak di perempatan jalan, itu memudahkanku untuk mengawasi kondisi keempat jalan yang ada. Dari arah utara jalan yang ada di depan kafe terlihat dari kejauhan sesosok manusia berjaket musim dingin berwarna hitam berjalan di trotoar mengarah ke sini. Perlahan mendekat, ia mengenakan topi ala karakter Caplin untuk menutupi wajahnya. Tentu saja itu harus dilakukan, karena ia bukanlah warga sipil yang tak tahu siapa kami ini.
"Excuse moi, Je suis venu pour Adagio" (Permisi, aku ada perlu dengan Adagio) ucap pria bertubuh pendek itu di depanku.
Tak ada yang perlu ditakutkan darinya, setidaknya ia bukanlah orang yang akan menghadiahkan pisau di perutku secara cuma-cuma. Aku paham betul siapa pria ini meski aku tidak mengenalnya, dialah pelanggan kami yang pertama malam ini. Aku mempersilahkan ia masuk dan mengantarkannya ke ruangan Nancy. Disaat melewati depan ruang dapur, aku melihat Pose dan Gratt yang sedang tiduran di kursi kayu, kulesatkan dua koin dari tangan lihaiku untuk menbangunkan mereka dan ikut ke ruangan Nancy. Tangga kayu dengan karpet merah yang terletak di sebelah dapur diujung dinding kafe yang berukuran 10x7 meter ini kami pijaki dengan santai, dan langkah kami terhenti di depan pintu yang bertuliskan "Le bureau de Nancy".
Tok tok tok !!
Nancy, ini aku Chant. Aku membawa pelanggan pertama kita malam ini.
“Ah, silahkan masuk !” perintahnya.
Nancy yang duduk di kursi layaknya bos kantoran menghadap ke luar jendela membelakangi kami. Ia mempersilahkan sang tamu duduk di sofa berwarna krem yang ada di kanan kami. Beberapa saat kemudian Nancy membalikkan kursinya, dan bisnis pun dimulai.
•Sinopsis
•Prolog
•Bagian 1 - Tempo

0 comments:
Post a Comment